Faktaberitaindonesia.net, PRAHA – Seorang intelijen China (Tiongkok) yang diduga menyamar sebagai wartawan ditangkap oleh otoritas keamanan di Praha, Ceko, pada Kamis (22/1/2026). Penangkapan dilakukan karena yang bersangkutan dicurigai mengumpulkan informasi intelijen untuk kepentingan negaranya.
Dilansir Tribunnews dari Newsweek, Minggu (24/1/2026), penangkapan ini merupakan bagian dari upaya aparat keamanan Ceko menanggapi maraknya dugaan operasi spionase China di berbagai negara Eropa.

Intelijen China tersebut diduga menargetkan sejumlah politisi, industri strategis, serta kelompok pembangkang asal China yang berada di wilayah Eropa. Pemerintah negara-negara Eropa sebelumnya juga telah menyuarakan kekhawatiran terhadap aktivitas spionase dan jaringan peretasan yang dikaitkan dengan badan intelijen serta keamanan Tiongkok.
Badan kontraintelijen Ceko, BIS, menyatakan penangkapan dilakukan melalui operasi terkoordinasi bersama unit Pusat Nasional Anti Terorisme, Ekstremisme, dan Kejahatan Siber kepolisian Ceko. Pernyataan tersebut disampaikan secara resmi melalui akun X milik BIS.
Jaksa menuntut pria tersebut dengan tuduhan melakukan aktivitas untuk negara asing tanpa izin. Kasus ini menjadi penerapan pertama pasal tersebut sejak diberlakukan pada Februari 2025.
Media Ceko, Seznam Zprávy, mengutip sumber yang mengetahui penyelidikan, mengungkapkan bahwa tersangka bernama Yang Yiming. Ia diketahui merupakan koresponden atau jurnalis terakreditasi untuk Guangming Daily, media yang dikelola oleh Partai Komunis Tiongkok.
Selama berada di Ceko, Yang diduga secara sistematis membangun jaringan dengan tokoh-tokoh politik dan pembentuk opini yang dinilai lebih terbuka terhadap kepentingan Beijing dibandingkan arus utama politik Eropa.
Selain di Ceko, Yang juga disebut menjalin hubungan dengan sejumlah politisi di negara tetangga Slovakia. The Slovak Spectator melaporkan bahwa salah satu tokoh yang pernah berinteraksi dengannya adalah Ketua Parlemen Slovakia, Richard Raši.
Kasus ini semakin memperkuat kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap skala dan keberlanjutan operasi intelijen China dalam memperoleh informasi sensitif serta potensi gangguan terhadap keamanan dan infrastruktur strategis di kawasan tersebut.
(Redaksi)





